Awal perjalanan itu, berawal dari SMA Negeri yang jaraknya cukup dekat dari rumahku dengan susah payah kuarungi waktu demi sebuah SMA Negeri. Saat itu juga pengumuman dari SMPku keluar, dan menyatakan bahwa nilai UNku menjadi peringkat satu di SMPku. Sungguh tak terbayang apa yang aku rasakan ini, benar-benar tidak kusangka usahaku selama ini tidak sia-sia. Aku akhiri kisah masa putih biruku dengan indah. Masih sangat jelas dibenakku, terakhir aku melambaikan tangan pada teman-temanku sambil menuju gerbang sekolahku dan saat itulah, saat terakhir aku menginjak SMPku memakai segaram putih biruku.
Dengan nilai yang memuaskan, aku mendaftar disebuah SMA Negeri yang dekat dengan rumahku dan terkenal dengan SMA yang sangat disiplin. Penuh rasa bangga saat melihat senyum kedua orang tuaku. Saat itu aku benar-benar seperti ingin melayang. Kebahagiaan yang aku rasakan benar-benar sangat nyata. Inikah yang dinamakan kebahagiaan sesungguhnya. Pengumuman diterimanya siswa baru pun telah keluar, diantara 350 siswa yang diterima, salah satu namaku ada disana. Kehidupanku bagaikan dunia yang penuh kebahagiaan. Tak ada satupun rintangan yang menghadang perjalanan hidupku saat itu.
Masa orientasi siswa pun telah tiba, Aku masih ingat saat kedua rambut aku ikat dengan pita yang berwarna hijau, Saat itu rambutku masih sepinggang, senang rasanya menjalani masa orientasi siswa bersama teman-temanku. Berbagai persyaratan yang diberikan kakak senior untuk kami. Aku juga masih ingat dengan kakak senior yang menjadi pembimbing kami, mereka adalah kak farid dan nindy. Saat itu aku sangat kagum dengan mereka yang lincah dan menyenangkan saat berbicara didepan kelas. Sungguh saat itu menyenangkan sekali, aku berkhayal kalau aku suatu saat nanti akan bisa bericara di depan kelas dengan lancar dan lincah seperti mereka.
Masih sangat jelas dibayanganku saat aku pertama kali mengenal sosok sahabatku di SMA, Dia adalah Dian Sukmawati. Gadis cantik yang sangat ramah dan menyenangkan. Dia adalah sahabat pertamaku di SMA. Tutur katanya yang manja, sangat menjadi ciri khas baginya. Kami duduk berdua di bangku depan paling pojok. Kami berkenalan saat masa orientasi siswaku telah usai. Hari demi hari aku lewati bersamanya, sungguh sangat menyenangkan. Canda dan tawa kami bagi bersama. Itulah saat pertama kalinya aku mendaptkan sosok sahabat sejati.
Tak terasa tetesan airmataku mengalir saat aku ingin menceritakan masa-masa SMAku bersamanya. Mungkin awal masa SMAku sangat manis, namun ditengah perjalanan masa ini aku mendapat sebuah musibah yang sangat tragis. Hari-hari di kelas X-1 sangat indah, ditengah-tengah persahabatan kami, kami mendapat sahabat baru, namanya Nurul Qomaria. Dia sosok gadis berhijab, dia gadis yang cukup periang dan baik. Kami bertigapun bersahabat di kelas kecil kami yang terletak di sudut lantai dua kelas X. Tepat disamping kelas kami, terletakk tangga, disitulah tempat kami bercengkrama, membagi suka dan duka kami. Kebahagiaan ini sungguh tak akan pernah kulupakan.
Tidak hanya di sampai disini, perjalanan kisah persahabatn kami berlanjut hingga kami beranjak ke kelas XI, kini kami tidak berada di kelas kecil kami lagi. Kita berpisah karena jurusan yang kita pilih berbeda, aku dan ria masuk kelas IPA sedangkan Dian memilih untuk masuk di kelas IPS. Namun jarakpun tidak bisa memisahkan kami bertiga, kami tetap saling berkunjung satu sama lain.
Hingga tiba saatnya liburan semester satu, tepat tanggal 2 Januari 2013. Malam itu aku mendapat sms bahwa sahabatku Dian meninggal. Rasa tak percaya menyelubungi benakku. Hingga segera aku menghubungi sahabatku qomaria . Ria pun tak percaya akan kabar burung tersebut. Entah kenapa tetes demi tetes air mataku terus mengalir meski rasa tak percaya ini masih ada dibenakku. Hingga kebenaran itu terbukti saat aku menelpon nomer sahabatku Dian dan kakaknya yang mengangkat tlp itu dan berkata "Dik, Dian sudah meninggal tadi jam 8, kami sekeluarga meminta maaf bila Dian dan keluarga punya salah " . Mendengar perkataan itu, aku tak berdaya. Satu katapun tak bisa aku lontarkan untuk menjawab perkataan itu. Tak sanggup rasanya aku kehilangan sosok yang selalu hadir disisiku, seperti orang gila saat itu. Masih terukir jelas di benakku senyumannya, cara dia menasehatiku, saat dia memelukku dikala aku terjatuh, dia sudah bagaikan saudara perempuanku sendiri.
Hari liburpun telah berlalu, tiba saatnya aku memulai semester duaku di sekolahku tercinta. Masih jelas terdengar di telingaku saat pengumuman di speaker kelasku berkata "Sebelum memmulai pelajaran hari ini, marilah kita mendoakan almarhumah Dian Sukmawati siswi kelas XI IPS 4 yang telah berpulang ke rahmatullah tepat tanggal 2 Januari kemaren" . Mendengar suara itu, aku benar-benar tak kuasa, aku benamkan wajahku diatas meja dan tetesan airmataku pun terus mengalir dan membasahi mejaku saat itu. Aku sangat rapuh saat itu.
Tragis, sangat tragis cara Tuhanku mengambil nyawa sahabatku itu. Kenapa harus dengan tertindas truk trailer itu? Kenapa harus dengan cara itu? Akupun bertanya-tanya pada diriku sendiri. Perasaan benci pada Tuhanku sangat kuat. Hari-hariku hanya aku isi bersama tangisan. Rasa kehilangan yang sangat mendalam, benar-benar aku rasakan.
Aku pun memutuskan untuk menyendiri, aku mulai ingin bangkit. Aku ingin Dian bangga menjadi sahabatku saat aku mulai bangkit dan mengukir prestasiku lagi. Sudah setengah tahun aku tidak menemui Qomaria, aku tidak ingin teringat masa-masa saat kami berkumpul.
Kelas XII, inilah masa dimana aku mulai membuka diri dan mulai menemui Qomaria lagi. Semua kesedihanku mulai aku kubur dalam-dalam. Aku ingin mengakhiri semua kesedihanku, Masa itu adalah masa yang bahagia, bersama teman sekelasku, aku mencoba membentuk pribadi yang lebih menyenangkan dan riang. Inilah sosok Lila yang baru, inilah yang aku tunjukkan pada semua orang, bahwa aku bisa berdiri lagi dari keterpurukan ini.
Aku akhiri masa Putih Abu-abuku dengan kenangan yang manis dan pernuh warna. Tepat tanggal 27 Maret namaku ada di antara 70 orang dari 1350 pendaftar jalur SNMPTN di Faculty of Nursing dengan beasiswa yang aku terima. Inilah yang aku katakan pada buku diaryku "Dian, inilah persembahanku buat kamu, inilah hasil dari support yang telah kamu berikan. Terima kasih telah hadir di kehidupanku untuk menggapai cita-citaku". Kelak jika aku sudah menjadi perawat, sebisa mungkin akan aku kerahkan seluruh jiwa dan ragaku demi menolong jiwa pasienku.Karena aku tau bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita sayangi.
Inilah kisah perjalanan masa putih abu-abuku yang penuh suka dan duka. Lila, Dian, Ria-Selamanya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar